BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang remaja tidaklah mudah, sebab kapan masa remaja berakhir dan kapan anak remaja tumbuh menjadi seseorang dewasa tidak dapat ditetapkan secara pasti.
Terlepas dari kesulitan untuk merumuskan definisi dan menentukan batas akhir masa remaja, namun dewasa ini istilah “adolesen”, atau remaja telah digunakan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial.
Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu : 12-15 tahun = remaja awal, 15-18 tahun = masa remaja pertengahan, 18-21 tahun = masa remaja akhir.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimanakah perkembangan fisik, dalam tinggi dan berat ?
- Bagaimanakah perubahan Pubertas ?
- Apa itu perkembangan kognitif ?
- Bagaimanakah perkembangan Psikososial ?
- Bagaimanakah perkembangan seksualitas ?
- Apa yang dimaksud dengan perkembangan proaktivitas ?
- Apa yang dimaksud dengan perkembangan Resilinensi ?
B.Tujuan
Untuk mengetahui bagaimanakah perkembangan fisik, dalam tinggi dan berat, perubahan pubertas, apa itu perkembangan kognitif, bagaimanakah perkembangan psikososial, perkemabangan seksualitas, apa itu perkembangan proaktivitas serta perkembangan resilinensi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Fisik
Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologi ( Sarwono, 1994). Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Dalam konteks ini, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduksif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, yang disebut
“Grow spurt” ( percepatan pertumbuhan), di mana terjadi perubahan dan percepatan pertumbuhan di seluruh bagian dan dimensi badan (zigler dan Stevenson, 1993). Pertumbuhan cepat bagi anak perempuan terjadi 2 tahun lebih awal dari anak laki-laki.
Perubahan Dalam Tinggi dan Berat
Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12 tahun adalah sekitar 59 atau 64 inci. Ada pun faktor penyebab laki-laki rata-rata lebih tinggi dari pada perempuan adalah karena laki-laki memulai percepatan pertumbuhan mereka 2 tahun lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak perempuan.
Percepatan pertumbuhan badan juga terjadi dalam penambahan berat badan, yakni sekitar 13 kg bagi anak laki-laki dan 10 kg bagi anak-anak perempuan (Malina, 1990). Meskipun berat badan juga mengalami peningkatan selama masa remaja, namun ia lebih mudah dipengaruhi, seperti melalui diet, latihan dan gaya hidup umumnya. Oleh karena itu, perubahan berat lebih sedikit dapat diramalkan dibandingkan dengan tinggi.
Perubahan Dalam Proporsi Tubuh
Perubahan-perubahan dalam proporsi tubuh selama masa remaja, juga terlihat pada perubahan ciri-ciri wajah, di mana wajah anak-anak mulai menghilang, seperti dahi yang semula sempit sekarang menjadi lebih luas, mulut melebar, dan dan bibir menjadi lebih penuh. Di samping itu, dalam perubahan struktur kerangka, terjadi percepatan pertumbuhan otot, sehingga mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah lemak dalam tubuh.
B. Perubahan Pubertas
Pubertas ialah suatu periode di mana kematangan masa remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.
Perubahan Ciri-Ciri Seks Primer
Ciri-ciri seks primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri seks primer ini berbeda antara laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukkan dengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan dan kantung kemaluan yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk usia penis dan 7 tahun untuk skrotum.
Perubahan-perubahan pada ciri-ciri seks primer pada pria ini sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak.
Sementara itu, pada anak perempuan perubahan ciri-ciri seks primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama ini memberi petunjuk bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga memungkinkan mereka untuk mengandung dan melahirkan anak.
Oleh sebab itu , menstruasi pertama pada seseorang gadis di dahului oleh sejumlah perubahan lain, yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut di sekitar daerah kelamin, pembesaran panggul dan bahu. Selanjutnya, ketika percepatan pertumbuhan mencapai puncaknya, maka ovarium uterus, vagina, labia, dan klitoris berkembang pesat.
Perubahan Ciri-Ciri Sekunder
Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Di antara tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki adalah tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu, dan dada melebar, suaru berat. Tumbuh bulu ketiak, di dada, di kaki dan di lengan, dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan panggul yang membesar, suara menjadi halus tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan.
C. Perkembangan Kognitif
Masa remaja adalah suatu periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, conger dan kagan, 1969). Di samping itu, pada masa remaja ini juga terjadi reorganisasi lingkaran saraf prontal lobe (belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe tersebut sangat berpengaruh terhadap kemampuan penalaran yang memberinya suatu tingkat pertimbangan moral dan kesadaran sosial yang baru. Di samping itu, sebagai anak muda yang telah memiliki kemampuan memahami pemikirannya sendiri dan pemikiran orang lain, remaja mulai membayangkan apa yang dipikirkan oleh orang tentang dirinya.
Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget
Ditinjau dari perspektif teori kognitif piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional formal, yakni suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotetis. Pada masa ini, anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi sesuatu yang abstrak.
Perkembangan Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk perbuatan berpikir dan hasil perbuatan itu disebut keputusan. Ini berarti bahwa dengan melihat bagaimana seorang remaja mengambil suatu keputusan, maka dapat diketahui perkembangan pemikirannya. Remaja adalah masa di mana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, keputusan untuk mengikuti les bahasa Inggris atau komputer dan seterusnya.
Dalam keputusan ini, remaja yang lebih tua ternyata lebih berkompoten daripada remaja yang lebih muda, sekaligus lebih berkompoten dibandingkan dengan anak-anak, remaja yang lebih muda cenderung menghasilkan pilihan-pilihan, menguji situasi dari berbagai perspektif, mengantisipasi akibat dari keputusan-keputusan dan mempertimbangkan kredibilitas sumber-sumber.
Perkembangan Orientasi Masa Depan
Orientasi masa depan merupakan salah satu fenomena perkembangan kognitif yang terjadi pada masa remaja. Sebagai individu yang sedang mengalami proses peralihan dari masa anak-anak mencapai kedewasaan, remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang mengarah pada persiapannya memenuhi tuntutan dan harapan peran sebagai orang dewasa.
Perkembangan Kognisi Sosial
Menurut Dacey & Kenny (1997), yang dimaksud dengan kognisi sosial adalah kemampuan untuk berpikir secara kritis mengenai isu-isu dalam hubungan interpersonal, yang berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman, serta berguna untuk memahami orang lain dan menentukan bagaimana melakukan interaksi dengan mereka.
Pada masa remaja muncul keterampilan-keterampilan kognitif baru. Menurut sejumlah ahli psikologi perkembangan, keterampilan-keterampilan kognitif baru yang muncul pada masa remaja ini mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan kognisi sosial mereka. Perubahan-perubahan dalam kognisi sosial ini merupakan salah satu ciri penting dari perkembangan remaja. Hal ini dapat dimengerti, sebab selama masa remaja kemampuan untuk berpikir secara abstrak mulai muncul. Kemampuan berpikir abstrak ini kemudian menyatu dengan pengalaman sosial, sehingga pada gilirannya menghasilkan suatu perubahan besar dalam cara-cara remaja memahami diri mereka sendiri dan orang lain.
Perkembangan Penalaran Moral
Moral merupakan suatu kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman menemukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi.
Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannya atas penilaian nya baik-buruknya sesuatu.
Perkembangan Pemahaman Tentang Agama
Seperti halnya moral, agama juga merupakan fenomena kognitif. Oleh sebab itu, beberapa ahli psikologi perkembangan menempatkan pembahasan tentang agama dalam kelompok bidang perkembangan kognitif.
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Adams & Gullota (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.
D. Perkembangan Psikososial
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa selama masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang dramatis, baik dalam fisik maupun dalam kognitif. Perubahan-perubahan secara fisik dan kognitif tersebut, ternyata berpengaruh terhadap perubahan dalam perkembangan psikososial yang penting selama masa remaja ini.
Perkembangan Individuasi dan Identitas
Masing-masing kita memiliki ide tentang identitas diri sendiri. Meskipun demikian, untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang identitas itu tidaklah mudah. Hal ini adalah karena identitas masing-masing orang merupakan suatu hal yang kompleks, yang mencangkup banyak kualitas dan dimensi yang berbeda-beda yang lebih ditentukan oleh pengalaman subjektif daripada pengalaman objektif, serta berkembang atas dasar eksplorasi sepanjang proses kehidupan ( Dusek , 1991).
Lebih jauh dijelaskan nya bahwa orang yang sedang mencari identitas adalah orang yang ingin menetukan “Siapakah” atau “ apakah” yang diinginkannya pada masa mendatang. Bila mereka telah memperoleh identitas, maka ia akan menyadari ciri-ciri khas kepribadiannya, seperti kesukaan atau ketidaksamaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya.
Dalam konteks psikologi perkembangan, pembentukan identitas merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja.
Proses ini terdiri dari empat sub tahap yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu : diferensiasi, praktis dan eksperimentasi, penyesuaian, serta konsolidasi dari. Untuk lebih jelas masing-masing sub tahap ini, dapat dilihat dalam tabel 7.4. berikut :
Tabel 7.4.
Sub Tahap Perkembangan Identitas
|
Sub-Tahap
|
Usia / Th
|
Karakteristik
|
|
Difarentiation
Practive
Rapprochement
Consolidation
|
12-14
14-15
15-18
18-21
|
Remaja menyadari bahwa ia berbeda secara psikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nilai-nilai dan nasehat-nasehat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasehat tersebut masuk akal.
Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapatmelakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau nasehat dan menantang orang tuanya pada setiap kesempatan. Komitmennya terhadap teman-teman juga bertambah.
Karena kesedihan dan kekhawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja untk menerima kembali sebagian otoritas orang tuanya, tetapi silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menantang dan kadang mereka menantangdan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab di sekitar rumah, namun di sisi lai ia akan mendongkol ketika orang tuanya.Selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan aktivitasnya di luar rumah.
Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, independent dan individualitas.
|
2. Teori Psikososial Erikson
Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil, akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaannya dengan orang lain, menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, penuh percaya diri, tanggap terhadap berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal perannya dalam masyarakat (Erikson, 1989).
3. Perkembangan Hubungan Dengan Orang Tua
Perubahan-perubahan fisik, kognitif dan sosial yang terjadi dalam perkembangan remaja. Salah satu ciri yang menonjol dari remaja yang mempengaruhi relasinya dengan orang tua adalah perjuangan untuk memperoleh otonomi, baik secara fisik dan psikologis. Karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, maka mereka berhadapan dengan bermacam-macam nilai dan ide-ide. Seiring dengan terjadinya perubahan kognitif selama masa remaja, perbedaan ide-ide yang dihadapi sering mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap sering mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran yang berasal dari orang tua. Akibatnya, remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua sera mengembangkan ide-ide mereka sendiri.
Orang tua tidak lagi dipandang sebagai otoritas yang serba tahu. Secara, optimal, remaja mengembangkan pandangan-pandangan yang lebih matang dan realitis dari orang tua mereka. Kesadaran bahwa mereka adalah seorang yang memiliki kemampuan, bakat, dan pengetahuan tertentu mereka memandang orang tua sebagai orang yang harus dihormati, dan sekaligus sebagai orang yang dapat berbuat kesalahan.
Begitu pentingnya faktor keterikatan yang kuat antara orang tua dan remaja dalam menentukan arah perkembangan remaja, maka orang tua senantiasa harus menjaga dan mempertahankan keterikatan ini. Untuk mempertahankan keterikatan atau kedekatan orang tua dengan anak remaja mereka, orang tua harus membiarkan mereka bebas untuk berkembang.
4. Perkembangan Hubungan Dengan Teman Sebaya
Perkembangan kehidupan sosial remaja juga ditandai dengan gejala meningkatkan nya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berhubungan atau bergaul dengan teman-teman sebaya mereka.
Pada prinsip nya hubungan teman sebaya mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan remaja. Dalam literatur psikologi perkembangan diketahui satu contoh klasik betapa pentingnya teman sebaya dalam perkembangan sosial remaja.
Studi-studi kontemperor tentang remaja, juga menunjukkan bahwa hubungan yang positif dengan sebaya diasosiasikan dengan penyesuaian sosial yang positif (Santrock, 1998). Hartup (1982) misalnya mencatat bahwa pengaruh teman sebaya memberikan remaja. Bahkan dalam studi lain ditemukan bahwa hubungan teman sebaya yang harmonis selama masa remaja, dihubungkan dengan kesehatan mental yang positif pada usia setengah baya (hightower, 1990). Secara lebih rinci, Kelly dan Hansen (1987) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya, yaitu :
- Mengontrol impuls-implus agresif.
- Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independen.
- Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang.
- Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin.
- Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai.
- Meningkatkan harga diri.
Sejumlah ahli teori lain menekankan pengaruh negatif dari teman sebaya terhadap perkembangan anak-anak dan remaja. Bagi sebagian remaja, ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, menyebabkan muncul nya perasaan kesepian atau permusuhan.
E. Bagaimanakah Perkembangan Seksualitas
Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang belum memiliki pengalaman tentang seksual, tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini menimbulkan keterangan fisik dan psikis.
Untuk melepaskan diri dari keterangan seksual tersebut, remaja mencoba mengekspresikan dorongan seksualnya dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktivitas bepacaran, berkencan, bercumbu, sampai dengan melakukan kontak seksual.
F. Perkembangan Proaktivitas
Proaktivitas adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Stephen mengenai manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Perilakunya adalah fungsi dan keputusannya sendiri, dan ia mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi.
G. Perkembangan Resiliensi
Resiliensi merupakan sebuah istilah yang relatif baru dalam khasanah psikologi, terutama psikologi perkembangan. Paradigma resiliensi didasari oleh pandangan kontemperor yang muncul dari lapangan psikiatri, psikologi, dan sosiologi tentang bagaimana anak, remaja dan orang dewasa sembuh dari kondisi stress, trauma dan resiko dalam kehidupan mereka.
1. Pengertian Resiliensi
Menurut Emmy E. Werner (2003), sejumlah ahli tingkah laku menggunakan istilah resiliensi untuk menggambarkan tiga fenomena :
- Perkembangan positif yang dihasilkan oleh anak yang hidup dalam konteks :beresiko tinggi”, seperti anak yang hidup dalam kemiskinan kronis atau perlakuan kasar orang tua
- Kompetensi yang dimungkinkan muncul di bawah tekanan yang berkepangajangan, seperti peristiwa-peristiwa di sekitar perceraian orang tua mereka
- Kesembuhan dari trauma, seperti ketakutan dari peristiwa perang saudara dan kamp konsentrasi.
Resiliensi adalah suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang. Hal ini adalah karena kehidupan manusia senantiasa diwarnai oleh adversity (kondisi yang tidak menyenangkan).
2. Sumber Pembentukan Resiliensi
Upaya mengatasi kondisi-kondisi adversity dan mengembangkan resiliency remaja, sangat tergantung pada pemberdayaan tiga faktor dalam diri remaja, yang oleh Groberg (1994) disebut sebagai tiga sumber dari resiliansi (there sources of resilience), yaitu I have ( aku punya), I am ( aku ini), I can ( aku dapat).
I have ( aku punya ) merupakan sumber resilinse yang berhubungan dengan pemaknaan remaja terhadap besarnya dukungan yang diberikan oleh lingkungan sosial terhadap dirinya. Sumber I Have ini memiliki beberapa kualitas yang memberikan sumbangan bagi pembentukan resiliensi, yaitu :
- Hubungan yang dilandasi oleh kepercayaan penuh
- Struktur dan peraturan di rumah
- Model-model peran
- Dorongan untuk mandiri
- Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, keamanan, dan kesejahteraan.
I am ( aku ini ) merupakan sumber resiliensi yang berkaitan dengan kekuatan pribadi yang dimiliki oleh remaja, yang terdiri dari perasaan, sikap dan keyakinan pribadi. Beberapa kualitas pribadi yang mempengaruhi I am ini adalah :
- Disayang dan disukai oleh banyak orang
- Mencita, empati, dan kepedulian pada orang lain
- Bangga dengan dirinya sendiri
- Bertanggung jawab terhadap perilaku sendiri dan menerima konsekuensinya
- Percaya diri, optimistic, dan penuh harap.
- 3. Interaksi antara faktor I have, I am, I can
Resiliensi merupakan hasil kombinasi dari faktor-faktor I have, I am, dan I can. Untuk menjadi seorang yang resiliensi, tidak cukup hanya memiliki satu faktor saja, melainkan harus ditopang oleh faktor-faktor lain, misalnya, seorang remaja mungkin dicintai ( I have), tetapi jika ia tidak mempunyai kekuatan dalam dirinya ( I am) atau tidak memiliki keterampilan-keterampilan interpersonal dan sosial ( I can) maka ia tidak dapat menjadi resilien.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologi ( Sarwono, 1994). Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Dalam konteks ini, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduksif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat,
Pubertas ialah suatu periode di mana kematangan masa remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.
Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang belum memiliki pengalaman tentang seksual, tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini menimbulkan keterangan fisik dan psikis.
B. Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, semoga pembaca mudah memahami isi dari makalah ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran guna pembuatan makalah berikut nya.