Dec 3, 2012 - Agama, Makalah    No Comments

Makalah PERANG SALIB

 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perang Salib adalah perang agama yang terjadi selama hampir tiga abad sebagai reaksi umat Kristen di Eropa terhadap umat Islam di Asia yang dianggap sebagai pihak penyerang. Perang ini terjadi karena sejak tahun 632 sampai meletusnya Perang Salib sejumlah kota-kota penting dan tempat suci umat Kristen telah diduduki oleh umat Islam, seperti Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Disebut Perang Salib karena ekspedisi militer Kristen mempergunakan salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari tangan orang-orang Islam (Dewan Redaksi, 1997:240)

Read more »

Nov 17, 2012 - Ekonomi, Makalah    No Comments

MAKALAH Manajemen pendidikan Konsep dasar manajemen berbasis sekolah..

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam pembahasan makalah ini, penulis  akan membahas beberapa hal tentang konsep dasar manajemen berbasis sekolah (MBS) dimaksudkan agar  bisa menambah pengetahuan dan wawasan kita dalam hal konsep dasar manejemen berbasis sekolah.

 B.     Rumusan Masalah

  1.  Apa yang dimaksud dengan manajemen sekolah?
  2.  Apa yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah?
  3. Bagaimana MBS sebagai proses pemberdayaan?

 C.    Tujuan

  1. Untuk mengetahui  yang dimaksud dengan manajemen sekolah.
  2. Untuk mengetahui  yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah.
  3. Untuk mengetahui  bagaimana MBS sebagai proses pemberdayaan.

 BAB II

PEMBAHASAN

KONSEP DASAR MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

A.    Manajemen sekolah

Istilah manajemen memiliki banyak arti, tergantung pada orang yang mengartikannya. Istilah manajemen sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. Dalam tulisan ini kata manajemen  diartikan sama dengan kata administrasi atau pengelolaan, meskipun kedua istilah tersebut sering diartikan berbeda. Berdasarkan  fungsi pokoknya istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama, karena itu, perbedaan kedua istilah tersebut tidak konsisten dan tidak signifikan.

Gaffer (1989) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistematik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Manajemen pendidikamn juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah maupun tujuan jangka panjang.

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien. Konsep tersebut berlaku  disekolah  yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien. Dalam kerangka inilah tumbuh kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah, yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, mempertanggungjawabkan, mengatur serta memimpin sumber-sumber daya insane serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. Manajemen berbasis sekolah juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Untuk itu, perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan.

Dalam manajemen pendidikan dikenal dua mekanisme pengaturan yaitu system sentralisasi dan desentralisasi. Dalam system sentralisasi, segala sesuatu yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidiakn diatur secara ketat oleh pemerintah pusat. Sementara dalam system desentralisasi, wewenang pengaturan tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah.

System pengaturan sentralistik ditujukn untuk menjamin integaritas kesatuan dan persatuan bangsa. Tilaar (1991:22) mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok umur yang secara pedagogic sangat peka terhadap pembentukan kepribadian.

Dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, pendekatan sentralistik masih diperlukan, terutama untuk menentukan kurikulum pendidikan nasional dan menetapkan anggaran agar dapat dicapai kesamaan dan pemerataan standar pendidikan diseluruh wilayah tanah air.

Desentralisasi pengelolaan sekolah  perlu  diletakkan dalam rangka mengisi kebhinekaan dalam waaaadah Negara kesatuan yang dijiwai oleh rasa persatuan dan kesatuan bangsa, bukan berdasarkan kepentingan kelompok dan daerah secara sempit. Pelaksanaan desentralisasi dalam pengelolaan sekolah memerlukan kesiapan berbagai perangkat pendukung  di daerah. Sedikitnya terdapat empat hal yang  harus dipersiapkan agar pelaksanaan desentralisasi berhasil yaitu :

  1. Peraturan perundang-undangan yang mengatur desentralisasi pendidikan dari tingkat daerah, provinsi sampai tingkat kelembagaan
  2. Pembinaan kemampuan daerah
  3. Pembentukan perencanaan unit yang bertanggung jawab untuk menyusun perencanaan pendidikan
  4. Perangkat social berupa kesiapan masyarakat setempat untuk menerima dan membantu menciptakan iklim yang kondusif  bagi pelaksanaan desentralisasi tersebut.

 B.     Manajemen berbasis sekolah (MBS)

Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan  terjemahan dari school-based management. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembagan masyarakat setempat. MBS merupakan paradigm baru pendidikan, yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan  nasonal. Otonomi diberikan agar sekolah leluasa  mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas  kebutuhan serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat, pelibatan masyarakat dimaksudkan agar mereka lebih memahami, membantu dan mengontrol pengelolaan pendidikan.

Pada system MBS sekolah  dituntut secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalaikan dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber baik  kepada masyarakat maupun pemerintah.

MBS merupakan salah  satu wujud dari reformasi  pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik d an memamdai bagi para peserta didik.

Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti  dari  MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta  memberikan beberapa keuntungan berikut:

  1. Kebijaksanaannya dan kewenangan sekolah membawa pengaruh  langsung kepada peserta didik, orang tua dan  guru.
  2. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya local
  3. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran  hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan ikllim sekolah.
  4. Adanya  perhatian bersama untuk mengambil keputusan, memberdayakan guru, manajemen sekolah, rancang ulang sekolah dan perubahan perencanaan (Fattah, 2000)
  5. Tujuan MBS

MBS, ditandai dengan otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat merupakan respons pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat, bertujuan untuk meningkatkan efisien, mutu dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi antara lain, diperoleh melalui keleluasaan  mengelola sumberdaya partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah, berlakunya system intensif sertra disensitif. Peningkatan pemerataan antara lalin diperoleh melalui peningkatan partisipasi masyarakat  yang memngkinkan pemerintah  lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan karena pada sebagian masyarakat tumbuh rasa kepemilikikan  yang tinggi terhadap sekolah.

Manfaat MBS

MBS memberikan kebebasan dan kekuasaan yang besar pada sekolah, disertai seperangkat tanggung jawab. MBS menekankan keterlibatan maksimal berbagai pihak, seperti pada sekolah-sekolah swasta, sehingga menjamin partisipasi staf, orang tua, peserta didik dan masyarakat yang lebih luas dalam perumusan-perumusan keputusan tentang pendidikan.

Factor-faktor yang perlu diperhatikan

BPPN bekerja sama dengan bank dunia (1999) telah mengkaji beberapa factor yang perlu diperhatikan sehubungan dengan manajemen berbasis sekolah., yaitu :

-   Kewajiban sekolah

Sekolah dituntut mampu menampilkan pengelolaan sumber daya secara transparan, demokratis, tanpa monopoli, merintah, dalam rangka meningkatkan kapasitas pelayanan terhadap peserta didik.

-          Kebijakan dan prioritas pemerintah

Agar prioritas pemerintah dilaksanakan oleh sekolah dan semua aktivitas sekolah ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik sehingga  dapat belajar dengan baik, pemerintah perlu merumuskan seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan MBS. Pedoman-pdoman tersebut, terutama ditujukan untuk menjamin bahwa hasil pendidikan (student outcomes) terevaluasi dengan baik, kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan secara efektif, sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujui pemerintah dan anggaran dibelanjakan sesuai dengan tujuan.

-   Peranan orangtua dan masyarakat

Melalui dewan sekolah (school council), orang tua dan masyarakat dapat  berpartisipasi dalam pembuatan berbagai keputusan. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih memahami serta mengawasi d an membantus ekolah dalam pengelolaan termasuk kegiatan belajar-mengajar. Besarnya partisipasi masyarakat

- Peranan profesionalisme dan manajerial

Kepala sekolah khususnya, perlu mempelajari dengan teliti baik kebijkan dan prioritas pemerintah maupun prioritas sekolah sendiri. Untu kepentingan tersebut, kepala sekolah harus:

  1. Memiliki kemampuan untuk berkolaborasi degan guru dan masyarakat sekitar sekolah
  2. Memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran
  3. Memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisis situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya serta mampu meperkirakan kejadian dimasa d epan berdasarkan situasi sekarang.
  4. Memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengidentifikasi maslaah dan kebutuhan yang berkaitan dengan efektivitas pendidikan di sekolah dan
  5. Mampu memanfaatkan peluang menjadikan tantangan  sebagai peluang serta  mengonseptualkan arah baru untuk perubahan.

-    Pengembangan profesi

Dalam MBS pemerintah harus menjamin bahwa semua unsure penting tenaga kependidikan (sumber manusia) menerima pengembangan profesi yang diperlukan untuk mengelola sekolah secraa efektif.

  1. Karakteristik manajemen berbasis sekolah

Karakteristik MBS bisa d iketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Proses belajar mengajar, pengelolaan sumber daya manuisa, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi.

 C.    MBS sebagai proses pemberdayaan

Pemberdayaan dimaksdukan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dalam perekonomiannya, hak-haknya dan memiliki posisi yang seimbang dengan kaum lain yang selama ini telah lebih mapan kehidupannya.

Kindervatter memberikan batasan pemberdayaan sebagai peningkatan pemahaman manusia untuk meningkatkan kedudukannya di masyarakat. Peningkatan kedudukan itu meliputi kondisi-kondisi sebagai berikut:

  1. Akses, meiliki peluang yang cukup besar untuk mendapatkan  sumber-sumber daya dan sumber dana
  2. Daya pengungkit, meningkat d alam hal daya tawar kolektifnya
  3. Pilihan-pilihan, mampu dan memiliki peluang terhadap berbagai pilihan
  4. Status meningkatnya citra diri, kepuasan diri, dan memiliki perasaan yang positif atas identitas  budayanya.
  5. Kemampuan refleksi kritis, menggunakan pengalaman untuk mengukur potensi keunggulannyta atas berbagai peluang pilihan-pilihan dalam pemecahan masalah
  6. Legitimasi, ada pertimbangan ahli yang menjadi justifikasi atau yang membenarkan terhadap alasan-alasan rasional atas kebutuhan-kebutuhan masyarakat
  7. Disiplin menetapkan sendiri standar mutu untuk pekerjaan  yang dilakukan untuk orang lain
  8. Persepsi kreatif, sebuah pandangan yang lebih positif dan inovatif terhadap hubungan dirinya dengan lingkugannya.

Cook dan macaulay memberikan difinisi pemberdayaan sebagai “alat penting untuk memperbaiki  kinerja organisasi melalui penyebaran keputusan dan tanggung jawab”

Pada dasarnya pemberdayaan terjadi melalui beberapa tahap, pertama masyarakat mengembangkan  sebuah  kesadaran awal bahwa mereka dapat melakukan tindakan untuk meningkatkan kehidupannya dan memperoleh seperangkat keterampilan agar mampu bekerja lebih baik.

Sedikitnya terdapat delapan langkah pemberdayaan dalam kaitannya dengan MBS:

  1. Menyusun kelompok guru sebagai penerima awal atas rencana program pemberdayaan
  2. Mengidentifikasi dan membangun kelompok peserta didik di sekolah
  3. Memilih dan melatih guru dan tokoh masyarakat yang terlibat secara langsung dalam implementasi manajemen berbasis sekolah
  4. Membentuk dewan sekolah
  5. Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan para anggota dewan sekolah
  6. Mendukung aktivitas kelompok yang tengah berjalan
  7. Mengembagkan hubungan yang harmonis  antara sekolah dan masyarakat
  8. Menyelenggarakan lokakarya untuk evaluasi
  9. Community organization

Pemberdayaan  berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang control (atas diri dan lingkungannya)

Self managementand collaboration

Adanya kesamaan dan kesepdanan kedudukan dalam hubungan kerja

Participatory approach

Menggunakan pendekatan partisipatif

Education for justice

Pendidikan untuk keadilan

      Ciri-ciri inilah merupakan tahapan dasar dalam MBS berikut rincian ungkapan karakteristik pemberdayaan kindervatter yag disebutnya dalam bahasa awam (commonalities).

  1. Penyusunan kelompok kecil
  2. Pengalihan tanggung jawab
  3. Pimpinan oleh para partisipan
  4. Guru sebagai fasilitators
  5. Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja  yang  luwes
  6. Merupakan integrasi antara reflelksi d an aksi
  7. Metode yang mendorong kepercayaan diri
  8. Meningkatkan derajat  kemandirian social, ekonomi dan politik.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa:

  1. Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien. Konsep tersebut berlaku  disekolah  yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien.
  2. Pada system MBS sekolah  dituntut secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalaikan dan mempertanggungjawabkan pemberdayaan sumber-sumber baik  kepada masyarakat maupun pemerintah.
  3. Kindervatter memberikan batasan pemberdayaan sebagai peningkatan pemahaman manusia untuk meningkatkan kedudukannya di masyarakat. Peningkatan kedudukan itu meliputi kondisi-kondisi sebagai berikut:
    1. Akses, meiliki peluang yang cukup besar untuk mendapatkan  sumber-sumber daya dan sumber dana
    2. Daya pengungkit, meningkat d alam hal daya tawar kolektifnya
    3. Pilihan-pilihan, mampu dan memiliki peluang terhadap berbagai pilihan
    4. Status meningkatnya citra diri, kepuasan diri, dan memiliki perasaan yang positif atas identitas  budayanya.
    5. Kemampuan refleksi kritis, menggunakan pengalaman untuk mengukur potensi keunggulannyta atas berbagai peluang pilihan-pilihan dalam pemecahan masalah
    6. Legitimasi, ada pertimbangan ahli yang menjadi justifikasi atau yang membenarkan terhadap alasan-alasan rasional atas kebutuhan-kebutuhan masyarakat
    7. Disiplin menetapkan sendiri standar mutu untuk pekerjaan  yang dilakukan untuk orang lain
    8. Persepsi kreatif, sebuah pandangan yang lebih positif dan inovatif terhadap hubungan dirinya dengan lingkugannya.

 B.     Kritik dan saran

Dalam penulisan  makalah ini pemakalah menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian demi kemajuan makalah dimasa yang akan datang.

Nov 11, 2012 - Tugas Umum    1 Comment

“MASA ANAK SEKOLAH” Mulai umur 6 tahun ini, seorang anak pertumbuhan badannya seimbang..

MASA ANAK SEKOLAH

A.    Pengantar

Mulai umur 6 tahun ini, seorang anak pertumbuhan badannya seimbang, maka anak menjadi senang bermain keseimbangan penguasaan badan.

kriteria kematangan anak dalam hal ini antara lain:

  1. Sudah dapat bekerja sama dalam suatu kelompok anak-anak lainnya, serta tidak lagi bergantung dengan ibunya dalam kegiatannya.
  2. Mengamati secara terurai terhadap bagian-bagian  dari objek pengamatan.
  3. Anak harus  mempu menyadari akan kepentingan orang lain, to take and give. Bagi Indonesia criteria umur yang ditetapkan adalah 7 tahun untuk dapat masuk pada sekolah dasar (SD)

Adapun perkembangan jiwa anak pada masa sekolah ini yang memnnonjol antara lain

  1. Adanya keinginan yang cukup tinggi, terutama yang menyangkut perkembangan intelektual anak, biasanya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau senang melakukan pengembaraan serta percobaan.
  2. Energy yang melimpah sehingga kadangkala anak itu  tidak mempedulikan bahwa dirinya telah lelah atau capek.
  3. Perasaan social yang be rkembang pesat, sehingga anak menyukai untuk mematuhi grup teman sebayanya (peer group) malah terkadang anak lebih suka mementingkan peer groupnya disbanding orang tuanya.
  4. Sudah dapat berpikir secara abstrak, sehingga memungkinkan bagi anak untuk menerima hal-hal yang berupa teori ataupun norma-norma tertentu.
  5. Minat istimewanya tertuju kepada kegemaran dirinya (gemar bermain gitar, pelihara binatang, dll
  6. Adanya kekejaman yaitu “perhatian anak ditujukan kepada dunia luar, akan tetapi dirinya tidak mendapat perhatian, saat itu juga anak belum menge nal jiwa orang lain”.

Pada masa itu juga anak sekolah telah tumbuh sikap objektifnya yang menyangkut tentang :

  • Kenyataan :

Anak mempunyai sikap yang serius kepada dunia nyata (realistis)

  • Kesusilaan :

Sikap anak terhadap  norma susila sudah jujur meskipun terkadang acuh tak acuh.

 

B.     Memasuki masyarakat di luar keluarga

Mengingat perkembangan anak yang amat pesat pada usia sekolah ini, dan memngingat bahwa lingkungan keluarga sekarang tidak lagi mampu memberikan fasilitas untuk mengembangkan fungsi-fungsi anak, terutama fungsi intelektual dalam mengejar kemajuan zaman modern, maka anakmemerlukan satu lingkungan social baru yang lebih luas, berupa sekolahab untuk mengembangkan semua kompetensinya.

Selanjutnya, milieu sekolah akan memberikan pengaruh yang amat besar pada anak  sebagai individu d an sebagai makhluk social. Misalnya anak bias belajar secara sistematis, bias bergaul dengan sesama temannya, bias bermain bersama-sama dan mengadakan eksperimen.

Sampai pada usia 3,5 tahun, anak adalah anak keluarga seutuh-utuhnya. Sesudah umur tersebut, anak mulai meluaskan cakrawala pengalamannya diluar lingkungan keluarga. Fungsi penghayatan emosional yanmg dominan 3,5 lalu diganti dengan penghayatan sifatnya yang lebih rasional: dengan mana anak menjadi semakin objektif.

Dari lingkungan keluarga yang sempit, anak sekarang  memasuki lingkungan sekolah yang lebih luas, yang mempunyai kondisi dan situasi berbeda sekali dengan keluarga. Di sekolah ini hasil-hasil kebudayaan bangsa dan zamannya akan ditransformasikan ataupun di transmisikan pada diri anak. Dengan pengoperan hasil budaya tadi  diharapkan agar anak bias mempelajari produk-produk cultural bangsanya, untuk  kemudian mampu bertingkah laku se suai dengan norma-norma etis dan norma social lingkungan sekolah.

 C.    Macam-Macam Fase Perkembangan

  1. Menurut meuman
    1. Masa sintesis fantasi :

7 sampai 8 tahun. Dalam masa ini pengamatan anak masih global, bagian-bagiannya belum tampak jelas.

  1. Masa analisis

8-12 atahun. Dalam masa ini anak telah mampu membeda-bedakan sifat dalam mengenal bagian-bagiannya, walaupun hubungan antara bagian itu belum tampak seluruhnya.

  1. Masa logis

12 tahun ke atas. Dalam masa ini anak telah dapat berpikir logis, pengertian dan kesadarannya semakin sempurna.

  1. Menurut William stern
    1. Masa mengenal benda:

Sampai 8 tahun, pengamatannya masih bersifat global.

  1. Masa mengenal hubungan :

8 sampai dengan 9 tahun. Dalam masa ini anak tela memperhatikan perbuatan manusia dan hewan

  1. Mas a mengenal hubungan : 9 sampai 10  tahun. Anak dalam masa ini mulai mengenal hubungan antara waktu, tempat dan sebab akibat.
  2. Masa mengenal sifat

10 tahun ke atas. Anak mulai menganalisis pengamatannya sehingga ia mengenal sifat-sifat benda, manusia dan hewan.

  1. Menurut Oswald kroh
    1. Sintesis fantasi:

7  sampai 8 tahun, pengamatan masih dipengaruhi f antasinya.

  1. Masa realism naif :

8 samapai dengan 10 tahun. Semua yang diamati diterima begitu  saja tanpa ada kecaman atau kritik.

  1. Masa realism kritis :

10 sampai 12 tahun. Dalam masa ini anak mulai berpikir kritis.

  1. Masa subjectif:

12 samapai 14 tahun. Anak berpaling kepada dunianya sendiri. Perhatiannya ditujukan kepada dirinya sendiri. Hidupnya gelisah rau-ragu, timbul rasa malu, hidup perasaannya tidak harmonis.

      Bila kita perhatikan fase-fase pengamatan yang telah dikemukakan  di atas tadi, ternyata banyak persamaannya. Secara garis besarnya, perkembangan pengamatan merupakan peralihan dari keseluruhan menuju bagian-bagiannya, menerima tanpa kritik menuju kea rah pengertian dari alam khayal menuju kea lam kenyataan.

D.    Perkembangan fantasi

  1. Masa dongeng :

4 sampai dengan 8 tahun. Masa ini bertepatan waktunya dengan perkembangan anak kearah  kenyataan.

  1. Masa robinson cruose:

8 samapai 12 tahun. Dalam masa ini anak mengalami realism naïf.

  1. Masa pahlawan :

12 sampai 15 tahun. Ana suka membaca buku-buku perjuangan, karya orang kenamaan yang pernah terjadi.

Beberapa nilai fantansi :

  1. Fantasi dapat dipergunakan sebagai hiburan
  2. Fabtasi dapat memudahkan anak dalam menerima pelajaran
  3. Fantasi membentuk budi pekerti anak

Beberapa keburukan fantasi:

  1. Anak sering tenggelam ke dalam dunia fantasinya. Tampaknya dia suka melamun.
  2. Anak takut menghadapi kenyataan. Ia menjadi ornag yang pemalu atau menjadi orang pembual dikalangan teman-temannya.

 

E.     Perkembangan pikiran dan ingatan

Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah dasar ini berkembang secara berangsur-angsur dan secara tenang. Anak betul-betul berada dlam stadium belajar. Disamping keluarga , sekolah memberikan penganruh yang sistematis terhadap pembentukan akal budi anak.

Dari iklim yang egosentris, anak memasuki realitas benda  dan peristiwa-peristiwa mendorong anak untuk meneliti dan melakukan eksperimen.

Minat anak pada periode ini terutama sekalli tercurah pada segala sesuatu yang dinamis bergerak. Anak pada usia ini sangat aktif  dinamis, dan segala sesuatu yang aktif dan bergerak akan sangat menarik minat dan perhatian anak. Lagipula minatnya banyak tertuju pada macam-macam aktivitas.

Ingatan anak pada usia 8-12 tahun ini mencapai intensitas paling besar dan paling kuat. Daya menghapal dan daya memorisasi adalah paling kuat.

Kehidupan fantasi mengalami perubahan penting. Pada usia 8-9 anak menyukai sekali cerita-cerita dongeng. Lambat laun, unsure ktirik mulai    muncul, dan anak menghendaki peristwa riil yang betul-betul terjadi. Karena itu anak lalu menyukai cerita-cerita kepahlawanan.

   

F.     Kehidupan Perasaan

Pada umumnya anak itu lebih emosional daripada orang dewasa. Pada usia sekolah dasar ini anak cepat merasa puas. Sifatnya optimistic dan kurang dirisaukan oleh rasa-rasa penyesalan.

Perasaan intelektual anak pada periode ini sangat besar. Teka-­teki silang, soal-soal matematik, dan perhitungan yang pelik-pelik (terutarna kalau hasilnya berupa angka-angka yang utuh) merupakan daya tarik besar untuk dipecahkan oleh anak; baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Sebaliknya, kehidupan emosionalnya belum begitu berkembang. Kriteria baik dan buruk, indah atau jelek, susila dan asusila semua ini dengan serta merta dioper oleh anak dari orang tua clan orang dewasa.

Mengenai perasaan religius pada diri anak dapat dinyatakan di sini, bahwa gambaran-gambaran fantasi anak mengenai surga, neraka, dan Tuhan jadi makin menipis, bersamaan dengan menghilangnya

cerita dongeng-dongeng fantasi “Jaka Kendil” dan “Abu Nawas’ Sebab, .minat anak kini begitu tercekam oleh realitas di sekitar dirinya, sehingga la tidak mempunyai waktu untuk menyibukkan diri dengan masalah Jenseits (masalah-masalah alam barzakh, dan sesudah hidup  ini).

Jadi pandangan anak betul-betul diesseitig, yaitu mengarah pada masalah kehidupan sekarang. Hal ini tidak berarti, bahwa pera­saan religius anak hilang sama sekali; akan tetapi tidak menonjol. Perasaan-perasaan tinggi tersebut (perasaan religius) seakan-akan lelap tertidur. Hanya kadang-kadang muncul. Sehubungan dengan hal ini, hendaknya pendidikan agama pada anak-anak usia 6 – 12 tahun itu tidak dilaksanakan dengan kekerasan, ancaman-ancaman dan pak­saan untuk melakukan rite-rite keagamaan. Akan tetapi diberikannya untuk melakukan perkembangan psikis, kebutuhan, dan keingman anak.

Rasa takut dan cemas ini bukanlah gejala abnormal pada diri anak. Sebab anak secara instingtif memang merasa takut pada hal-hal yang belum dikenalnya, yang masih samar-samar dan hal-hal yang  Sandi atau mengandung rahasia.

Memang perlu unsur waktu dan insinght untuk belajar menilai semua benda dengan wajar, dan menempatkan setiap peristiwa pada perspektif yang wajar. Anak harus belajar mengatasi ketakutan tersebut, tanpa menimbulkan akibat efek yang buruk.

Untuk mengatasi perasaan-perasaan takut pada diri anak ini, diperlukan sikap orang dewasa yang tenang dan bijaksana. Tuntunan dan pemberian keyakinan akan tuangan kasih sayang orang tua akan menguatkan unsur kepercayaan pada diri anak.

Kepercayaan ini akan menumbuhkan rasa aman, rasa kepercayaan diri, dan harga diri. Seorang anak dalam periode menjelajah dunia sekitar selalu akan menengok pada ibunya untuk menclapatkan kepastian terhadap setiap langkah clan tinclakannya. Anak yang lebih tua, akan selalu mengharapkan support-moril orang tuanya dalam setiap usahanya mencari pengalaman baru.. Cinta kasih dan dorongan orang tua akan. menambah kepercayaan diri dalam setiap tingkah laku anak.

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN “Masa Remaja”Untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang remaja tidaklah mudah, sebab kapan masa remaja berakhir dan kapan anak remaja tumbuh menjadi seseorang dewasa tidak dapat ditetapkan secara pasti…

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang 

Untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang remaja tidaklah mudah, sebab kapan masa remaja berakhir dan kapan anak remaja tumbuh menjadi seseorang dewasa tidak dapat ditetapkan secara pasti.

Terlepas dari kesulitan untuk merumuskan definisi dan menentukan batas akhir masa remaja, namun dewasa ini istilah “adolesen”, atau remaja telah digunakan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial.

Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu : 12-15 tahun = remaja awal, 15-18 tahun = masa remaja pertengahan, 18-21 tahun = masa remaja akhir.

B.     Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah perkembangan fisik, dalam tinggi dan berat ?
  2. Bagaimanakah perubahan Pubertas ?
  3. Apa itu perkembangan kognitif ?
  4. Bagaimanakah perkembangan Psikososial ?
  5. Bagaimanakah perkembangan seksualitas ?
  6. Apa yang dimaksud dengan perkembangan proaktivitas ?
  7. Apa yang dimaksud dengan perkembangan Resilinensi ?

B.Tujuan

Untuk mengetahui bagaimanakah perkembangan fisik, dalam tinggi dan berat, perubahan pubertas, apa itu perkembangan kognitif, bagaimanakah perkembangan psikososial, perkemabangan seksualitas, apa itu perkembangan proaktivitas serta perkembangan resilinensi.

 BAB II

PEMBAHASAN

 A.    Perkembangan Fisik

Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang  berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologi ( Sarwono, 1994). Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Dalam konteks ini, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduksif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, yang disebut

“Grow spurt” ( percepatan pertumbuhan), di mana terjadi perubahan dan percepatan pertumbuhan di seluruh bagian dan dimensi badan (zigler dan Stevenson, 1993). Pertumbuhan cepat bagi anak perempuan terjadi 2 tahun lebih awal dari anak laki-laki.

Perubahan Dalam Tinggi dan Berat

Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12 tahun adalah sekitar 59 atau 64 inci. Ada pun faktor penyebab laki-laki rata-rata lebih tinggi dari pada perempuan adalah karena laki-laki memulai percepatan pertumbuhan mereka 2 tahun lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak perempuan.

Percepatan pertumbuhan badan juga terjadi dalam penambahan berat badan, yakni sekitar 13 kg bagi anak laki-laki dan 10  kg  bagi anak-anak perempuan (Malina, 1990). Meskipun berat  badan juga mengalami peningkatan selama masa remaja, namun ia lebih mudah dipengaruhi, seperti melalui diet, latihan dan gaya hidup umumnya. Oleh karena itu, perubahan berat lebih sedikit dapat diramalkan dibandingkan dengan tinggi.

Perubahan Dalam Proporsi Tubuh

Perubahan-perubahan dalam proporsi tubuh selama masa remaja, juga terlihat pada perubahan ciri-ciri wajah, di mana wajah anak-anak mulai menghilang, seperti dahi yang semula sempit sekarang menjadi lebih luas, mulut melebar, dan dan bibir menjadi lebih penuh. Di samping itu, dalam perubahan struktur kerangka, terjadi percepatan pertumbuhan otot, sehingga mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah lemak dalam tubuh.

B.     Perubahan Pubertas

Pubertas ialah suatu periode di mana kematangan masa remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.

Perubahan Ciri-Ciri Seks Primer

Ciri-ciri seks primer menunjuk pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi. Ciri-ciri seks primer ini berbeda antara laki-laki, ciri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukkan dengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan dan kantung kemaluan yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk usia penis dan 7 tahun untuk skrotum.

Perubahan-perubahan pada ciri-ciri seks primer pada pria ini sangat dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon perangsang yang diproduksi oleh kelenjar bawah otak.

Sementara itu, pada anak perempuan perubahan ciri-ciri seks  primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis. Terjadinya menstruasi pertama ini memberi petunjuk bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan telah matang, sehingga memungkinkan mereka untuk mengandung dan melahirkan anak.

Oleh sebab itu , menstruasi pertama pada seseorang gadis di dahului oleh sejumlah perubahan lain, yang meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut di sekitar daerah kelamin, pembesaran panggul dan bahu. Selanjutnya, ketika percepatan pertumbuhan mencapai puncaknya, maka ovarium uterus, vagina, labia, dan klitoris berkembang pesat.

Perubahan Ciri-Ciri Sekunder

Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, namun merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Di antara tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki adalah tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu, dan dada melebar, suaru berat. Tumbuh bulu ketiak, di dada, di kaki dan di lengan, dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan panggul yang membesar, suara menjadi halus tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan.

 C.    Perkembangan Kognitif

Masa remaja adalah suatu periode kehidupan di mana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, conger dan kagan, 1969). Di samping itu, pada masa remaja ini juga terjadi reorganisasi lingkaran saraf prontal lobe (belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe tersebut sangat berpengaruh terhadap  kemampuan penalaran yang memberinya suatu tingkat pertimbangan moral dan kesadaran sosial yang baru. Di samping itu, sebagai anak muda yang telah memiliki kemampuan memahami pemikirannya sendiri dan pemikiran orang lain, remaja mulai membayangkan apa yang dipikirkan oleh orang tentang dirinya.

Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget

Ditinjau dari perspektif teori kognitif piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional formal, yakni suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotetis. Pada masa ini, anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi sesuatu yang abstrak.

Perkembangan Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk perbuatan berpikir dan hasil perbuatan itu disebut keputusan. Ini berarti bahwa dengan melihat bagaimana seorang remaja mengambil suatu keputusan, maka dapat diketahui perkembangan pemikirannya. Remaja adalah masa di mana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, keputusan untuk mengikuti les bahasa Inggris atau komputer dan seterusnya.

Dalam keputusan ini, remaja yang lebih tua ternyata lebih berkompoten  daripada remaja yang lebih muda, sekaligus lebih berkompoten dibandingkan dengan anak-anak, remaja yang lebih muda cenderung menghasilkan pilihan-pilihan, menguji situasi dari berbagai perspektif, mengantisipasi akibat dari keputusan-keputusan dan mempertimbangkan kredibilitas sumber-sumber.

Perkembangan Orientasi Masa Depan

Orientasi masa depan merupakan salah satu fenomena perkembangan kognitif yang terjadi pada masa remaja. Sebagai individu yang sedang mengalami proses peralihan dari masa anak-anak mencapai kedewasaan, remaja memiliki tugas-tugas perkembangan yang mengarah pada persiapannya memenuhi tuntutan dan harapan peran sebagai orang dewasa.

Perkembangan Kognisi Sosial

Menurut Dacey & Kenny (1997), yang dimaksud  dengan kognisi sosial adalah kemampuan untuk berpikir secara kritis mengenai isu-isu dalam hubungan interpersonal, yang berkembang sejalan dengan usia dan pengalaman, serta berguna untuk memahami orang lain dan menentukan bagaimana melakukan interaksi dengan mereka.

Pada masa remaja muncul keterampilan-keterampilan kognitif baru. Menurut sejumlah ahli psikologi perkembangan, keterampilan-keterampilan kognitif baru yang muncul pada masa remaja ini mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan kognisi sosial mereka. Perubahan-perubahan dalam  kognisi sosial ini merupakan salah satu ciri penting dari perkembangan remaja. Hal ini dapat dimengerti, sebab selama masa remaja kemampuan untuk berpikir secara abstrak mulai muncul. Kemampuan berpikir abstrak ini kemudian menyatu dengan pengalaman sosial, sehingga pada gilirannya menghasilkan suatu perubahan besar dalam cara-cara remaja memahami diri mereka sendiri dan orang lain.

Perkembangan Penalaran Moral

Moral merupakan suatu kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman menemukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi.

Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannya atas penilaian nya baik-buruknya sesuatu.

Perkembangan Pemahaman Tentang Agama

Seperti halnya moral, agama juga merupakan fenomena kognitif. Oleh sebab itu, beberapa ahli psikologi perkembangan menempatkan pembahasan tentang agama dalam kelompok bidang perkembangan kognitif.

Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Adams & Gullota (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.

 D.    Perkembangan Psikososial

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa selama masa remaja terjadi perubahan-perubahan yang dramatis, baik dalam fisik maupun dalam kognitif. Perubahan-perubahan secara fisik dan kognitif tersebut, ternyata berpengaruh terhadap perubahan dalam perkembangan psikososial yang penting selama  masa remaja ini.

Perkembangan Individuasi dan Identitas

Masing-masing kita  memiliki ide tentang identitas diri sendiri. Meskipun demikian, untuk merumuskan sebuah definisi yang memadai tentang identitas itu tidaklah mudah. Hal ini adalah karena identitas masing-masing orang merupakan suatu hal yang kompleks, yang mencangkup banyak kualitas dan dimensi yang berbeda-beda yang lebih ditentukan oleh pengalaman subjektif daripada pengalaman objektif, serta berkembang atas dasar eksplorasi sepanjang proses kehidupan ( Dusek , 1991).

Lebih jauh dijelaskan nya bahwa orang yang sedang mencari identitas adalah orang yang ingin menetukan “Siapakah” atau “ apakah” yang diinginkannya pada masa mendatang. Bila mereka telah memperoleh identitas, maka ia akan menyadari ciri-ciri khas kepribadiannya, seperti kesukaan atau ketidaksamaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang  diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya.

Dalam konteks psikologi perkembangan, pembentukan identitas merupakan tugas utama dalam perkembangan kepribadian yang diharapkan tercapai pada akhir masa remaja.

Proses ini terdiri dari empat sub tahap yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu : diferensiasi, praktis dan eksperimentasi, penyesuaian, serta konsolidasi dari. Untuk lebih jelas masing-masing sub tahap ini, dapat dilihat dalam tabel 7.4. berikut :

 Tabel 7.4.

Sub Tahap Perkembangan Identitas

Sub-Tahap

Usia / Th

Karakteristik

Difarentiation

Practive

 Rapprochement

Consolidation

12-14

14-15

 15-18

18-21

Remaja menyadari bahwa ia berbeda secara psikologis dari orang tuanya. Kesadaran ini sering membuatnya mempertanyakan dan menolak nilai-nilai dan nasehat-nasehat orang tuanya, sekalipun nilai-nilai dan nasehat tersebut masuk akal.

Remaja percaya bahwa ia mengetahui segala-galanya dan dapatmelakukan sesuatu tanpa salah. Ia menyangkal kebutuhan akan peringatan atau  nasehat dan menantang orang tuanya pada setiap kesempatan. Komitmennya terhadap teman-teman juga bertambah.

Karena kesedihan dan kekhawatiran yang dialaminya, telah mendorong remaja untk menerima kembali sebagian otoritas orang tuanya, tetapi silih berganti antara eksperimentasi dan penyesuaian, kadang mereka menantang dan kadang  mereka menantangdan kadang berdamai dan bekerjasama dengan orang tua mereka. Di satu sisi ia menerima tanggung jawab di sekitar rumah, namun di sisi lai ia akan mendongkol ketika orang tuanya.Selalu mengontrol membatasi gerak-gerik dan aktivitasnya di luar rumah.

Remaja mengembangkan kesadaran akan identitas personal, yang menjadi dasar bagi pemahaman dirinya dan diri orang lain, serta untuk mempertahankan perasaan otonomi, independent dan individualitas.

2. Teori Psikososial Erikson

Remaja yang berhasil mencapai suatu identitas diri yang stabil, akan memperoleh suatu pandangan yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaannya dengan orang lain, menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, penuh percaya diri, tanggap terhadap berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal perannya dalam masyarakat (Erikson, 1989).

3.      Perkembangan Hubungan Dengan Orang Tua

Perubahan-perubahan fisik, kognitif dan sosial yang terjadi dalam perkembangan remaja. Salah satu ciri yang menonjol dari remaja yang mempengaruhi relasinya dengan orang tua adalah perjuangan untuk memperoleh otonomi, baik secara fisik dan psikologis. Karena remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk saling  berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, maka mereka berhadapan dengan bermacam-macam nilai dan ide-ide. Seiring dengan terjadinya perubahan kognitif selama masa remaja, perbedaan ide-ide yang dihadapi sering  mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap sering mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran yang berasal dari orang tua. Akibatnya, remaja mulai mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua sera mengembangkan ide-ide mereka sendiri.

Orang tua tidak lagi dipandang sebagai otoritas yang serba tahu. Secara, optimal, remaja mengembangkan pandangan-pandangan yang lebih matang dan realitis dari orang tua mereka. Kesadaran bahwa mereka adalah seorang yang memiliki kemampuan, bakat, dan pengetahuan tertentu mereka memandang orang tua sebagai orang yang harus dihormati, dan sekaligus sebagai orang yang dapat berbuat kesalahan.

Begitu pentingnya faktor keterikatan yang kuat antara orang tua dan remaja dalam menentukan arah perkembangan remaja, maka orang tua senantiasa harus menjaga dan mempertahankan keterikatan ini. Untuk mempertahankan keterikatan atau kedekatan orang tua dengan anak remaja mereka, orang tua harus membiarkan mereka bebas untuk berkembang.

4.      Perkembangan Hubungan Dengan Teman Sebaya

Perkembangan  kehidupan sosial remaja juga  ditandai dengan gejala meningkatkan nya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan mereka. sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berhubungan atau bergaul dengan teman-teman sebaya mereka.

Pada prinsip nya hubungan teman sebaya mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan remaja. Dalam literatur psikologi perkembangan diketahui satu contoh klasik betapa pentingnya teman sebaya dalam perkembangan sosial remaja.

Studi-studi kontemperor tentang remaja, juga menunjukkan bahwa hubungan yang positif dengan sebaya diasosiasikan dengan penyesuaian sosial yang positif (Santrock, 1998). Hartup (1982) misalnya mencatat bahwa pengaruh teman sebaya memberikan remaja. Bahkan dalam studi lain ditemukan bahwa hubungan teman sebaya yang harmonis selama masa remaja, dihubungkan dengan kesehatan mental yang positif pada usia setengah baya (hightower, 1990). Secara lebih rinci, Kelly dan Hansen (1987) menyebutkan 6 fungsi positif dari teman sebaya, yaitu :

  1. Mengontrol impuls-implus agresif.
  2. Memperoleh dorongan emosional dan sosial serta menjadi lebih independen.
  3. Meningkatkan keterampilan-keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang.
  4. Mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin.
  5. Memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai.
  6. Meningkatkan harga diri.

Sejumlah ahli teori lain menekankan pengaruh negatif dari teman sebaya terhadap perkembangan anak-anak dan remaja. Bagi sebagian remaja, ditolak atau diabaikan oleh teman sebaya, menyebabkan muncul nya perasaan kesepian atau permusuhan.

E.     Bagaimanakah Perkembangan Seksualitas

Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang belum memiliki pengalaman tentang seksual, tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini menimbulkan keterangan fisik dan psikis.

Untuk melepaskan diri dari keterangan seksual tersebut, remaja mencoba mengekspresikan dorongan seksualnya dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktivitas bepacaran, berkencan, bercumbu, sampai dengan melakukan kontak seksual.

F.     Perkembangan Proaktivitas

Proaktivitas adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Stephen mengenai manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Perilakunya adalah fungsi dan keputusannya sendiri, dan ia mempunyai inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi.

G.    Perkembangan Resiliensi

Resiliensi merupakan sebuah istilah yang relatif baru dalam khasanah psikologi, terutama psikologi perkembangan. Paradigma resiliensi didasari oleh pandangan kontemperor yang muncul dari lapangan psikiatri, psikologi, dan sosiologi tentang bagaimana anak, remaja dan orang dewasa sembuh dari kondisi stress, trauma dan resiko dalam kehidupan mereka.

1.      Pengertian Resiliensi

Menurut Emmy E. Werner (2003), sejumlah ahli tingkah laku menggunakan istilah resiliensi untuk menggambarkan tiga fenomena :

  1. Perkembangan positif yang dihasilkan oleh anak yang hidup dalam konteks :beresiko tinggi”, seperti anak yang hidup dalam kemiskinan kronis atau perlakuan kasar orang tua
  2. Kompetensi yang dimungkinkan muncul di bawah tekanan yang berkepangajangan, seperti peristiwa-peristiwa di sekitar perceraian orang tua mereka
  3. Kesembuhan dari trauma, seperti ketakutan dari peristiwa perang saudara dan kamp konsentrasi.

Resiliensi adalah suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang. Hal ini adalah karena kehidupan manusia senantiasa diwarnai oleh adversity (kondisi yang tidak menyenangkan).

2.      Sumber Pembentukan Resiliensi

Upaya mengatasi kondisi-kondisi adversity dan mengembangkan resiliency remaja, sangat tergantung pada pemberdayaan tiga faktor dalam diri remaja, yang oleh Groberg (1994) disebut sebagai tiga sumber dari resiliansi (there sources of resilience), yaitu I have ( aku punya), I am ( aku ini), I can ( aku dapat).

I have ( aku punya ) merupakan sumber resilinse yang berhubungan dengan pemaknaan remaja terhadap besarnya dukungan yang diberikan oleh lingkungan sosial terhadap dirinya. Sumber I Have ini memiliki beberapa kualitas yang memberikan sumbangan bagi pembentukan resiliensi, yaitu :

  1. Hubungan yang dilandasi oleh kepercayaan penuh
  2. Struktur dan peraturan di rumah
  3. Model-model peran
  4. Dorongan untuk mandiri
  5. Akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, keamanan, dan kesejahteraan.

I am ( aku ini ) merupakan sumber resiliensi yang berkaitan dengan kekuatan pribadi yang dimiliki oleh remaja, yang terdiri dari perasaan, sikap dan keyakinan pribadi. Beberapa kualitas pribadi yang mempengaruhi I am ini adalah :

  1. Disayang dan disukai oleh banyak orang
  2. Mencita, empati, dan kepedulian pada orang lain
  3. Bangga dengan dirinya sendiri
  4. Bertanggung jawab terhadap perilaku sendiri dan menerima konsekuensinya
  5. Percaya diri, optimistic, dan penuh harap.
  6.  3.      Interaksi antara faktor I have, I am, I can

Resiliensi merupakan hasil kombinasi dari faktor-faktor I have, I am, dan I can. Untuk menjadi seorang yang resiliensi, tidak cukup hanya memiliki satu faktor saja, melainkan harus ditopang oleh faktor-faktor lain, misalnya, seorang remaja mungkin dicintai ( I have), tetapi jika ia tidak mempunyai kekuatan dalam dirinya ( I am) atau tidak memiliki keterampilan-keterampilan interpersonal dan sosial ( I can) maka ia tidak dapat menjadi resilien.

BAB III

 PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang  berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologi ( Sarwono, 1994). Pada mulanya, tanda-tanda perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks pubertas. Dalam konteks ini, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduksif bertumbuh dengan cepat. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat,

Pubertas ialah suatu periode di mana kematangan masa remaja. Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja, yang ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks sekunder.

Terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan seksual orang dewasa. Sebagai anak muda yang belum memiliki pengalaman tentang seksual, tidak jarang dorongan-dorongan seksual ini menimbulkan keterangan fisik dan psikis.

B.     Saran

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, semoga pembaca mudah memahami isi dari makalah ini, maka dari itu penulis  mengharapkan kritik dan saran guna pembuatan makalah berikut nya.

Pages:1234»